Rasa takut terhadap gempa susulan masih membayangi kehidupan masyarakat. Bahkan, aktivitas pendidikan anak-anak juga masih harus berlangsung dalam kondisi darurat di tenda.
“Kita melihat masyarakat masih belum berani tidur di dalam rumah. Setiap hari masih merasakan gempa. Malam hari mereka tidur di tenda, sekolah pun masih berlangsung di tenda. Artinya, rasa trauma itu masih sangat kuat,” katanya.
Kholid menilai situasi tersebut membutuhkan respons pemerintah yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga pemulihan kondisi psikologis masyarakat.
Trauma Healing Dinilai Harus Jadi Bagian Rekonstruksi NTT
Kholid menegaskan, pendampingan psikologis bagi warga terdampak gempa perlu dilakukan secara berkelanjutan. Tujuannya agar masyarakat secara bertahap kembali merasa aman dan mampu menjalani aktivitas sehari-hari secara normal.
Menurut dia, pembangunan kembali rumah, sekolah, dan fasilitas publik memang menjadi kebutuhan mendesak. Namun, pembangunan tersebut harus berjalan beriringan dengan pemulihan mental masyarakat.
“Jangan sampai kita hanya membangun kembali rumah dan fasilitas umum, tetapi lupa membangun kembali rasa aman masyarakat. Karena itu, trauma healing harus menjadi bagian penting dari rekonstruksi NTT,” tegasnya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp FloresTimes.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
