“Kami memiliki bahan baku, tetapi membutuhkan dukungan agar proses produksinya dilakukan di NTT. Dengan begitu nilai tambahnya dinikmati masyarakat dan daerah menjadi lebih mandiri,” katanya.
Sebagai contoh, Melki menyoroti komoditas pinang yang selama ini masih didatangkan dari luar daerah dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp1 triliun setiap tahun. Menurutnya, kondisi itu menunjukkan besarnya peluang ekonomi apabila komoditas tersebut dapat diproduksi dan diolah di NTT.
Labuan Bajo Dinilai Belum Nikmati Manfaat Fiskal
Dalam forum tersebut, Gubernur juga menyoroti posisi Kabupaten Manggarai Barat sebagai daerah tujuan wisata super prioritas.
Menurutnya, pemerintah daerah menanggung berbagai konsekuensi, mulai dari pengelolaan sampah hingga persoalan lingkungan akibat meningkatnya aktivitas pariwisata. Namun, manfaat fiskal yang diterima daerah dinilai belum sebanding.
Karena itu, Melki berharap pemerintah pusat memberikan dukungan fiskal yang lebih besar kepada daerah-daerah yang menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain itu, ia juga meminta dukungan anggaran untuk pembangunan infrastruktur, penanganan kemiskinan, penurunan stunting, hingga penguatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kemandirian Fiskal NTT Masih Rendah
Inspektur Jenderal Kementerian Keuangan, Awan Nurmawan Nuh, mengungkapkan tingkat kemandirian fiskal NTT saat ini baru mencapai sekitar 7,07 persen.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp FloresTimes.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
