Selain itu, sebagian warga terdampak masih tinggal di hunian sementara (huntara) maupun pengungsian mandiri sehingga pelayanan dasar dan perlindungan bagi masyarakat tetap menjadi prioritas pemerintah.
Aktivitas Gunung Masih Fluktuatif
Ketua Pos Pengamatan Gunung Api Lewotobi Laki-Laki, Herman Yosef Mboro, mengungkapkan aktivitas gunung masih berfluktuasi dengan frekuensi letusan berkisar empat hingga sepuluh kali setiap hari.
Tinggi kolom erupsi pun bervariasi, mulai dari 300 meter hingga 1.500 meter. Oleh karena itu, masyarakat diminta tetap mematuhi rekomendasi PVMBG dengan menjauhi kawasan dalam radius lima kilometer dari kawah.
Pembangunan Hunian Tetap Diminta Dipercepat
Ketua Pengadilan Negeri Larantuka, Maria R. S. Maranda, menyatakan dukungannya terhadap perpanjangan masa tanggap darurat. Namun, ia meminta pemerintah segera mempercepat pembangunan hunian tetap (huntap) bagi warga terdampak agar proses relokasi tidak terus mengalami penundaan.
Senada dengan itu, Kapolres Flores Timur Aditya Oktorio Putra mendukung kebijakan tersebut sekaligus mendorong optimalisasi Local Warning System (LWS) serta pembatasan akses menuju kawasan rawan bencana.
Sementara itu, Kasdim 1624 Flores Timur, Sunoko, menekankan pentingnya pengawasan terhadap para pengungsi, baik yang berada di huntara maupun pengungsian mandiri. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah warga kembali memasuki zona berbahaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp FloresTimes.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










