Di sebuah rumah sederhana berdinding bambu, ia bertemu Stevano Yota—balita kecil yang lahir tanpa lubang anus, kondisi medis yang dikenal sebagai atresia ani.
Di pangkuan ibunya, Natalia Suryati Dewi, tubuh kecil itu terbaring lemah. Tangisnya lirih, namun cukup untuk mengguncang hati siapa pun yang mendengarnya.
Bagi orang tuanya, Arnoldus Golo dan Natalia, hidup berubah sejak hari kelahiran itu. Harapan sempat mereka bawa hingga ke Kupang, namun keterbatasan biaya dan kondisi medis membuat langkah itu terhenti di tengah jalan.
Sukiman datang tanpa janji besar.
Hanya beberapa karung sembako dan sedikit uang dari kantong pribadinya.
“Saya tidak bisa membawa banyak,” ucapnya pelan.
“Tapi saya ingin mereka tahu, mereka tidak sendirian.”
Di rumah itu, ia tidak berdiri sebagai aparat.
Ia duduk di lantai.
Diam, mendengar, dan menguatkan.
Menyusuri Luka yang Tak Terlihat
Perjalanan Sukiman tak berhenti di satu titik.
Ia pernah menempuh 150 kilometer bersama seorang Babinsa untuk menemui Petrus Febrian Tempur, pemuda 19 tahun yang sejak lahir tak pernah menjejakkan kaki ke tanah.
Di waktu lain, ia memacu motornya sejauh 90 kilometer ke Desa Kaju Wangi, menemui Astrin Karmel Fia—remaja yang juga lahir dengan kondisi serupa Stevano.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp FloresTimes.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
