Borong, FloresTimes.ID – Pagi baru saja merekah di balik perbukitan Elar. Kabut tipis masih menggantung di antara jalan tanah yang berliku, ketika seorang pria berseragam polisi melangkah pelan, menembus sunyi.
Namanya Aipda Lalu Sukiman.
Di pundaknya, bukan hanya ransel berisi perlengkapan sederhana—buku catatan, kotak P3K, dan selebaran informasi—tetapi juga harapan dari mereka yang kerap luput dari perhatian.
Tak ada mobil dinas. Tak ada pengawalan. Hanya langkah kaki dan sesekali deru motor tua yang setia menemaninya menyusuri jalan berbatu, menyeberangi sungai kecil, hingga mendaki lereng curam di pelosok Manggarai Timur.
Di tempat seperti ini, Sukiman dikenal bukan karena pangkatnya.
Ia dipanggil “Bapak”.
Datang untuk Mendengar
Warga mengenalnya dari cerita ke cerita—tentang polisi yang rela berjalan berjam-jam hanya untuk menjenguk anak sakit, mendamaikan warga yang berselisih, atau sekadar duduk di beranda bambu, mendengarkan keluh kesah petani jagung dan peternak babi.
Ia tidak datang membawa rasa takut.
Ia datang membawa waktu.
Dan di tempat yang sering tak tersentuh negara, kehadiran seperti itu menjadi sangat berarti.
Tangisan di Balik Bukit
Suatu hari, langkah Sukiman membawanya ke Desa Legur Lai. Jalanan sunyi, berbatu, dan jauh dari sorotan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp FloresTimes.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
