iklan

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Jejak Sunyi Aipda Sukiman di Elar: Ketika Polisi Datang Membawa Harapan

Avatar photo
Aipda lalu sukirman
Aipda Lalu Sukiman bersama salah satu lansia di kampung Elar. (Foto: Ist)
  • Bagikan

Di sebuah rumah sederhana berdinding bambu, ia bertemu Stevano Yota—balita kecil yang lahir tanpa lubang anus, kondisi medis yang dikenal sebagai atresia ani.

Di pangkuan ibunya, Natalia Suryati Dewi, tubuh kecil itu terbaring lemah. Tangisnya lirih, namun cukup untuk mengguncang hati siapa pun yang mendengarnya.

Scroll kebawah untuk lihat konten
iklan
Mau usaha anda di lihat ribuan orang?  Klik Disini!!!
Baca Juga:
Bupati Flores Timur Lantik Kades Antar Waktu Kawalelo, Ajak Warga Tinggalkan Perbedaan dan Bersatu Bangun Desa

Bagi orang tuanya, Arnoldus Golo dan Natalia, hidup berubah sejak hari kelahiran itu. Harapan sempat mereka bawa hingga ke Kupang, namun keterbatasan biaya dan kondisi medis membuat langkah itu terhenti di tengah jalan.

Sukiman datang tanpa janji besar.

Hanya beberapa karung sembako dan sedikit uang dari kantong pribadinya.

“Saya tidak bisa membawa banyak,” ucapnya pelan.
“Tapi saya ingin mereka tahu, mereka tidak sendirian.”

Di rumah itu, ia tidak berdiri sebagai aparat.

Ia duduk di lantai.

Diam, mendengar, dan menguatkan.

Menyusuri Luka yang Tak Terlihat

Perjalanan Sukiman tak berhenti di satu titik.

Ia pernah menempuh 150 kilometer bersama seorang Babinsa untuk menemui Petrus Febrian Tempur, pemuda 19 tahun yang sejak lahir tak pernah menjejakkan kaki ke tanah.

Di waktu lain, ia memacu motornya sejauh 90 kilometer ke Desa Kaju Wangi, menemui Astrin Karmel Fia—remaja yang juga lahir dengan kondisi serupa Stevano.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp FloresTimes.ID

+ Gabung

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *