Jejak Sunyi Aipda Sukiman di Elar: Ketika Polisi Datang Membawa Harapan

Aipda lalu sukirman
Aipda Lalu Sukiman bersama salah satu lansia di kampung Elar. (Foto: Ist)
  • Bagikan

Borong, FloresTimes.ID – Pagi baru saja merekah di balik perbukitan Elar. Kabut tipis masih menggantung di antara jalan tanah yang berliku, ketika seorang pria berseragam polisi melangkah pelan, menembus sunyi.

Namanya Aipda Lalu Sukiman.

Baca Juga:
Wabup Nagekeo Resmi Buka Sosialisasi Akreditasi Perpustakaan, Perkuat Budaya Literasi

Di pundaknya, bukan hanya ransel berisi perlengkapan sederhana—buku catatan, kotak P3K, dan selebaran informasi—tetapi juga harapan dari mereka yang kerap luput dari perhatian.

Tak ada mobil dinas. Tak ada pengawalan. Hanya langkah kaki dan sesekali deru motor tua yang setia menemaninya menyusuri jalan berbatu, menyeberangi sungai kecil, hingga mendaki lereng curam di pelosok Manggarai Timur.

Baca Juga:
Jelang Tahun Ajaran Baru, Perindo Sikka Minta Pemkab Perketat Pengawasan Pungutan Sekolah

Di tempat seperti ini, Sukiman dikenal bukan karena pangkatnya.

Ia dipanggil “Bapak”.

Datang untuk Mendengar

Warga mengenalnya dari cerita ke cerita—tentang polisi yang rela berjalan berjam-jam hanya untuk menjenguk anak sakit, mendamaikan warga yang berselisih, atau sekadar duduk di beranda bambu, mendengarkan keluh kesah petani jagung dan peternak babi.

Ia tidak datang membawa rasa takut.

Ia datang membawa waktu.

Dan di tempat yang sering tak tersentuh negara, kehadiran seperti itu menjadi sangat berarti.

Tangisan di Balik Bukit

Suatu hari, langkah Sukiman membawanya ke Desa Legur Lai. Jalanan sunyi, berbatu, dan jauh dari sorotan.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp FloresTimes.ID

+ Gabung

  • Bagikan
Exit mobile version