“Kita perlu memberikan yang utama, yaitu tenda untuk ruang kelas. Daerah yang membutuhkan tenda harus kita prioritaskan. Kita harus adakan dengan cepat,” tegas Melki.
Selain tenda, Pemerintah Provinsi NTT mendorong pemanfaatan material lokal untuk membangun ruang belajar sementara.
Pengalaman pembangunan sekolah darurat di Kabupaten Nagekeo dapat menjadi contoh yang dikembangkan di daerah terdampak lainnya.
“Gunakan contoh di Nagekeo. Gunakan bambu dan terpal. Ini sangat mendesak,” ujarnya.
Melki juga meminta pendataan kerusakan sekolah dilakukan secara sistematis dan melalui proses verifikasi yang baik.
Perguruan tinggi, khususnya mahasiswa dan tenaga ahli bidang teknik sipil serta arsitektur, didorong ikut terlibat dalam identifikasi dan verifikasi kerusakan bangunan sekolah.
“Pendataan mesti bagus dan harus diverifikasi. Libatkan juga anak-anak dari kampus, terutama dari teknik sipil dan arsitektur,” katanya.
882 Ruang Kelas Butuh Revitalisasi
Selain penanganan melalui ruang belajar darurat, Pemprov NTT menyiapkan langkah pemulihan pendidikan dalam jangka menengah dan panjang.
Berdasarkan data sementara, terdapat 882 ruang kelas yang membutuhkan revitalisasi.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT juga telah menandatangani Perjanjian Kerja Sama dengan kementerian terkait untuk mendukung pelaksanaan program revitalisasi sekolah.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp FloresTimes.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










