Kupang, FloresTIMES.ID – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena meminta dukungan langsung Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto untuk mempercepat pemulihan sektor pendidikan di wilayah terdampak gempa Flores.
Salah satu kebutuhan mendesak yang disampaikan Melki adalah penyediaan tenda ruang belajar darurat agar ribuan anak yang sekolahnya terdampak gempa dapat kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Permintaan tersebut disampaikan Gubernur Melki dalam rapat penanganan gempa bumi dan percepatan pemulihan wilayah terdampak yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Posko Penanganan Gempa Bumi Yonif TP 834/Wakanga Mere, Kabupaten Nagekeo, Rabu (26/8/2026).
“Untuk kebutuhan pendidikan, kami punya 1.041 satuan pendidikan tingkat SMA, SMK dan SLB se-NTT. Secara khusus untuk Flores, kami minta agar pendidikan di tenda bisa segera digelar. Kami butuh tenda agar pendidikan bisa segera dimulai. Karena kalau pendidikan sudah mulai berjalan, ini juga bisa mengurangi traumatis anak-anak,” ujar Melki di hadapan Presiden Prabowo.
1.378 Satuan Pendidikan Terdampak Gempa Flores
Bagi Gubernur Melki, pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena bencana. Di tengah masa tanggap darurat, sekolah harus kembali menjadi ruang yang aman bagi anak-anak untuk belajar, berinteraksi, sekaligus perlahan memulihkan diri dari trauma.
Karena itu, Pemerintah Provinsi NTT mendorong penyediaan tenda belajar berkapasitas sekitar 30 hingga 50 orang untuk mendukung pembukaan kembali kegiatan belajar mengajar di sekolah yang mengalami kerusakan atau belum memungkinkan digunakan.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, gempa Flores berkekuatan magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026 berdampak terhadap 1.378 satuan pendidikan yang tersebar di tujuh kabupaten dan mencakup delapan jenjang pendidikan.
Satuan pendidikan terdampak tersebut terdiri atas 204 PAUD, satu TK, 701 SD, 287 SMP, 116 SMA, 63 SMK, lima SLB, serta satu satuan pendidikan kesetaraan Paket A, B dan C.
Dampak gempa juga dirasakan oleh 177.678 siswa serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan.
Sementara itu, sebanyak 5.521 ruang kelas mengalami kerusakan dan 502 sekolah tercatat mengalami kerusakan berat.
Gubernur Melki: Pendidikan Harus Segera Bergerak
Komitmen mempercepat pemulihan pendidikan terus ditindaklanjuti Gubernur Melki melalui rapat koordinasi penanganan dampak gempa sektor pendidikan bersama jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT di Kupang, Rabu (2/9/2026).
Dalam arahannya, Melki menegaskan pendidikan merupakan salah satu sektor vital yang harus segera bergerak selama masa tanggap darurat dan pemulihan pascabencana.
Menurutnya, kembali berjalannya aktivitas pendidikan akan memberikan tanda nyata bahwa proses pemulihan mulai berlangsung.
“Pendidikan bergerak akan menimbulkan suasana bahwa pemulihan itu terasa. Harus mulai dibuka agar kondisi pemulihan semakin nyata,” kata Melki.
Ia menekankan pemulihan pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan kembali gedung sekolah.
Anak-anak, guru dan seluruh ekosistem pendidikan harus mendapatkan perhatian yang sama.
Saat ini, sejumlah sekolah terdampak mulai kembali menggelar pembelajaran meski dalam kondisi terbatas. Sekolah memanfaatkan berbagai alternatif ruang belajar, mulai dari tenda, ruang darurat, ruang kelas yang masih aman hingga tempat terbuka.
Di SMA Negeri Maurole, Kabupaten Ende, misalnya, kegiatan belajar mengajar dilakukan secara terbatas dengan memanfaatkan tenda dan ruang terbuka.
Sementara di SMAN 4 Satarmese, Kabupaten Manggarai, proses pembelajaran berlangsung menggunakan ruang darurat.
Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah SMA, SMK dan SLB lain yang berada di wilayah terdampak gempa.
Tenda Belajar jadi Kebutuhan Mendesak
Gubernur Melki meminta kebutuhan ruang belajar darurat segera dipetakan secara sistematis.
Sekolah yang mengalami kerusakan dan belum dapat digunakan harus segera mendapatkan alternatif tempat belajar sehingga siswa tidak terlalu lama kehilangan rutinitas pendidikan.
“Kita perlu memberikan yang utama, yaitu tenda untuk ruang kelas. Daerah yang membutuhkan tenda harus kita prioritaskan. Kita harus adakan dengan cepat,” tegas Melki.
Selain tenda, Pemerintah Provinsi NTT mendorong pemanfaatan material lokal untuk membangun ruang belajar sementara.
Pengalaman pembangunan sekolah darurat di Kabupaten Nagekeo dapat menjadi contoh yang dikembangkan di daerah terdampak lainnya.
“Gunakan contoh di Nagekeo. Gunakan bambu dan terpal. Ini sangat mendesak,” ujarnya.
Melki juga meminta pendataan kerusakan sekolah dilakukan secara sistematis dan melalui proses verifikasi yang baik.
Perguruan tinggi, khususnya mahasiswa dan tenaga ahli bidang teknik sipil serta arsitektur, didorong ikut terlibat dalam identifikasi dan verifikasi kerusakan bangunan sekolah.
“Pendataan mesti bagus dan harus diverifikasi. Libatkan juga anak-anak dari kampus, terutama dari teknik sipil dan arsitektur,” katanya.
882 Ruang Kelas Butuh Revitalisasi
Selain penanganan melalui ruang belajar darurat, Pemprov NTT menyiapkan langkah pemulihan pendidikan dalam jangka menengah dan panjang.
Berdasarkan data sementara, terdapat 882 ruang kelas yang membutuhkan revitalisasi.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT juga telah menandatangani Perjanjian Kerja Sama dengan kementerian terkait untuk mendukung pelaksanaan program revitalisasi sekolah.
Pemerintah pusat juga tengah menyiapkan pembangunan sekolah darurat dengan memanfaatkan material lokal, termasuk bambu dan bahan lainnya.
Solusi tersebut diharapkan dapat menjadi jembatan sementara sembari menunggu proses rehabilitasi dan rekonstruksi bangunan sekolah secara permanen.
Sekolah Didorong jadi Ruang Pemulihan Trauma
Selain kerusakan fisik, Gubernur Melki memberikan perhatian terhadap dampak psikologis yang dialami siswa dan guru pascagempa.
Menurutnya, trauma akibat bencana tidak dapat dipulihkan dalam waktu singkat. Karena itu, pemulihan pendidikan harus berjalan bersamaan dengan penanganan kesehatan dan pemulihan psikososial.
“Trauma healing ini masih akan terjadi berbulan-bulan. Tiap sekolah perlu ada tim pendampingan. Harus ada kekuatan dari sekolah sendiri, jangan hanya berharap dari luar,” ujarnya.
Melki menilai kondisi kesehatan mental masyarakat di lokasi pengungsian perlu menjadi perhatian serius karena anak-anak dan keluarga terdampak masih menghadapi situasi penuh ketidakpastian.
“Mental health di pengungsian ini berat berkali-kali lipat dibanding situasi normal. Ini penting karena kesehatan mental akan menjadi masalah serius di pengungsian,” tegasnya.
Ia mendorong setiap sekolah membentuk tim pendampingan psikososial dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia.
Pendekatan trauma healing, kata Melki, tidak hanya dilakukan melalui pendekatan medis dan klinis, tetapi juga dapat memanfaatkan media, seni, budaya dan kearifan lokal.
Perhatian juga harus diberikan kepada guru dan tenaga kependidikan yang turut menjadi korban terdampak gempa.
Sebagian guru mengalami kerusakan bahkan kehilangan tempat tinggal. Di tengah kondisi tersebut, mereka tetap diharapkan mampu mendampingi siswa dalam proses pemulihan.
Jam Belajar Masyarakat Kembali Diaktifkan
Untuk memastikan proses pendidikan tetap berjalan, Gubernur Melki juga meminta program Jam Belajar Masyarakat kembali diaktifkan.
Program tersebut dapat menjadi alternatif ruang belajar bagi anak-anak di lingkungan keluarga dan masyarakat, terutama di wilayah yang belum mampu melaksanakan pembelajaran secara normal.
Menurut Melki, pemulihan pendidikan harus menjadi kerja bersama yang melibatkan pemerintah, sekolah, keluarga, perguruan tinggi, komunitas budaya, tenaga kesehatan, lembaga adat dan seluruh elemen masyarakat.
“Yang kita pulihkan bukan hanya bangunan sekolah. Kita harus memulihkan anak-anak, guru dan seluruh kehidupan pendidikan. Sekolah harus kembali menjadi ruang yang aman agar anak-anak bisa belajar dan perlahan pulih dari trauma,” pungkasnya.
Dengan penyediaan ruang belajar darurat, pendampingan psikososial dan revitalisasi sekolah, Pemerintah Provinsi NTT berharap aktivitas pendidikan di wilayah terdampak gempa Flores dapat kembali berjalan secara bertahap tanpa mengabaikan keselamatan siswa maupun tenaga pendidik. (*/ft1)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp FloresTimes.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










